Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi kesehatan mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagian dalam hidupnya, karena ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri, baik dalam kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tak jarang pula banyak orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka dalam penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh dengan tekanan. Penyesuaian diri individu tak terlepas dari kebutuhan dan tuntutan untuk diri sendiri dan lingkungannya. Maka, muncul suatu mekanisme penyesuaian seperti mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) dan mekanisme penyelesaian masalah (coping mechanism).
Defense mechanism ialah cara atau mekanisme pembelaan atau pertahanan diri yang digunakan seseorang untuk mengatasi ancaman atau permasalahan yang ditimbulkan oleh frustasi, konflik dan kecemasan. Mekanisme pertahanan diri menunjukkan proses tak sadar yang melindungi individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan (Sigmund Freud). Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif permasalahan dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Perilaku yang menggunakan mekanisme pertahanan diri memiliki implikasi dan konsekuensi yang memprihatinkan. Keprihatinan ini didasari pada dampak yang dapat menyesatkan. Terlebih jika terjadi pada remaja yang belum terbentuk atau mencapai suatu kematangan dirinya (psikologis, fisik, sosial).
Hal ini dikarenakan masa remaja adalah masa peralihan dari masa pubertas menuju masa dewasa awal, dimana dibutuhkan usaha yang keras dalam melakukan penyesuaian terhadap lingkungan dengan kondisi yang lebih baru dan lebih matang; dan juga belum selarasnya ketiga unsur jiwa (kognitif, afektif, konatif) mereka. Mereka masih dianggap oleh keluarga, masyarakat maupun oleh teman-teman sebayanya sebagai anak-anak yang belum memiliki kemandirian dan tanggung jawab yang berarti dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Stereotipe ini juga bisa menjadi tembok penghalang yang menghambat pengembangan dirinya agar lebih dewasa dan matang. Konsekuensi ketidakmampuan menyesuaikan diri (problem and coping solving) remaja menimbulkan suatu sikap yang tidak realistis, relevan dan logis termasuk dalam konsep pergaulan sosialnya.
Pertemanan dengan teman-teman sebaya dalam masa remaja menjadi hal atau pengaruh yang mendominasi dalam proses identifikasi dan pengembangan dirinya dibandingkan lingkungan keluarga. Pertemanan dimulai dengan satu, dua orang dan lambat laun jumlahnya akan semakin bertambah dan memungkinkan terbentuklah suatu kelompok sosial remaja (geng) yang dasarnya dilandasi oleh persamaan hobi, gagasan,
Pertemanan dan pergaulan merupakan suatu yang diagungkan dan didahulukan oleh mereka. Lalu muncullah kata-kata penguat pertemanan seperti setiakawan, solidaritas/solider, dan sebagainya; menjadi kata kunci atau kode etik yang harus ditaati dan dijalankan. Akan sungguh berbahaya dan mengkhawatirkan jika kemudian konsep atau pandangan yang melandasi bentuk kolektivisme itu bersifat kerdil, dangkal dan sempit. Kolektif diartikan sebagai sekumpulan individu yang (di)seragam(

