12 April 2007

ADAPTIF DIRI

Penyesuaian diri merupakan salah satu persyaratan penting bagi kesehatan mental individu. Banyak individu yang menderita dan tidak mampu mencapai kebahagian dalam hidupnya, karena ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri, baik dalam kehidupan keluarga, sekolah, pekerjaan dan dalam masyarakat pada umumnya. Tak jarang pula banyak orang-orang mengalami stres dan depresi disebabkan oleh kegagalan mereka dalam penyesuaian diri dengan kondisi yang penuh dengan tekanan. Penyesuaian diri individu tak terlepas dari kebutuhan dan tuntutan untuk diri sendiri dan lingkungannya. Maka, muncul suatu mekanisme penyesuaian seperti mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) dan mekanisme penyelesaian masalah (coping mechanism).

Defense mechanism ialah cara atau mekanisme pembelaan atau pertahanan diri yang digunakan seseorang untuk mengatasi ancaman atau permasalahan yang ditimbulkan oleh frustasi, konflik dan kecemasan. Mekanisme pertahanan diri menunjukkan proses tak sadar yang melindungi individu dari kecemasan melalui pemutarbalikan kenyataan (Sigmund Freud). Pada dasarnya strategi-strategi ini tidak mengubah kondisi objektif permasalahan dan hanya mengubah cara individu mempersepsi atau memikirkan masalah itu. Perilaku yang menggunakan mekanisme pertahanan diri memiliki implikasi dan konsekuensi yang memprihatinkan. Keprihatinan ini didasari pada dampak yang dapat menyesatkan. Terlebih jika terjadi pada remaja yang belum terbentuk atau mencapai suatu kematangan dirinya (psikologis, fisik, sosial).

Hal ini dikarenakan masa remaja adalah masa peralihan dari masa pubertas menuju masa dewasa awal, dimana dibutuhkan usaha yang keras dalam melakukan penyesuaian terhadap lingkungan dengan kondisi yang lebih baru dan lebih matang; dan juga belum selarasnya ketiga unsur jiwa (kognitif, afektif, konatif) mereka. Mereka masih dianggap oleh keluarga, masyarakat maupun oleh teman-teman sebayanya sebagai anak-anak yang belum memiliki kemandirian dan tanggung jawab yang berarti dalam lingkungan keluarga dan masyarakat. Stereotipe ini juga bisa menjadi tembok penghalang yang menghambat pengembangan dirinya agar lebih dewasa dan matang. Konsekuensi ketidakmampuan menyesuaikan diri (problem and coping solving) remaja menimbulkan suatu sikap yang tidak realistis, relevan dan logis termasuk dalam konsep pergaulan sosialnya.

Pertemanan dengan teman-teman sebaya dalam masa remaja menjadi hal atau pengaruh yang mendominasi dalam proses identifikasi dan pengembangan dirinya dibandingkan lingkungan keluarga. Pertemanan dimulai dengan satu, dua orang dan lambat laun jumlahnya akan semakin bertambah dan memungkinkan terbentuklah suatu kelompok sosial remaja (geng) yang dasarnya dilandasi oleh persamaan hobi, gagasan, gaya hidup dan sebagainya. Di dalam kelompok sosial ini remaja memiliki kesempatan mengaktualisasikan dirinya secara optimal, berbeda jika berada dengan orang-orang dewasa yang selalu membatasi, mengkritik dan menyalahkan dirinya dalam bersikap dan berbuat. Geng-geng dalam kehidupan sosial remaja sering menggunakan konsep kelompok yang sempit dalam mengartikan kesetiakawanan antar individu kelompoknya yang hanya sebatas pada arti yang setia terhadap kawan secara harfiah saja, sehingga makna kesetiakawanan tereduksi menjadi suatu bentuk pemaknaan yang miring atau membias oleh sikap rasionalisasi remaja dalam menjaga eksistensi kelompoknya agar tetap penuh dan eksis dengan ketahanan anggotanya yang cukup solid.

Pertemanan dan pergaulan merupakan suatu yang diagungkan dan didahulukan oleh mereka. Lalu muncullah kata-kata penguat pertemanan seperti setiakawan, solidaritas/solider, dan sebagainya; menjadi kata kunci atau kode etik yang harus ditaati dan dijalankan. Akan sungguh berbahaya dan mengkhawatirkan jika kemudian konsep atau pandangan yang melandasi bentuk kolektivisme itu bersifat kerdil, dangkal dan sempit. Kolektif diartikan sebagai sekumpulan individu yang (di)seragam(kan), tanpa (boleh) ada perbedaan; kolektif diartikan sebagai menanggung segalanya secara bersama dan itu semua bersifat absolut. Disinilah sifat kolektivisme muncul dan berkembang menjadi semakin mapan. Ketika salah satu individu memiliki perbedaan atau sikap penolakan terhadap bentuk pertemanan itu, maka pada saat itu juga dan seterusnya (selama ia masih dalam pendiriannya) ia akan diintimidasi secara ramai-ramai oleh teman-temannya dan dipojokkan dalam pergaulannya. Inilah yang dinamakan suatu bentuk kolektivisme kerdil yang tidak hanya terjadi pada masa remaja saja tetapi juga pada orang-orang dewasa dengan “budaya timurnya” (Indonesia). Maka tak heran muncul bentuk pertemanan dan pergaulan yang salah seperti demi “kesetiakawanan” ramai-ramai mencuri, berkelahi, mengkonsumsi narkotika, menyontek dan sebagainya.“Kesetiakawanan” hanyalah sebuah bentuk rasionalisasi akan pembelaannya untuk pembenaran sikap dan perbuatan dari bentuk pertemanan meskipun salah. Kata “kesetiakawanan” dalam arti sempit berarti suatu pembelaan terhadap diri atau eksistensi kelompok yang egoistik, yang menitikberatkan pada suatu jargon “setia kepada teman” dan diuntukkan hanya pada kepentingan sempit dan jangka pendek semata guna semakin memperkuat eksistensi kelompok dalam menjalankan pergerakannya. Maka, kelompok sosial yang menjalankan sistem ini menggunakan rasionalisasi sebagai suatu mekanisme pertahanan diri (defense mechanism) atau kelompok.

KEPRIBADIAN

Saya mencoba menganalisa 2 dari 4 tipe kepribadian diantaranya yakni Kepribadian Kolersis kuat, melankolis sempurna, phlegmatis damai, dan kepribadian sanguinis populer,,,,namun saya melihat terdapat 2 kaidah nuansa yang berbeda yang diwakili oleh 2 tipe kepribadian, yakni diantaranya kepribadian melankolis sempurna dan kepribadian koleris kuat.... Ditinjau dari kepribadian/karakternya, karakter SANGUINIS yang pada umumnya mempunyai:
KEKUATAN: * Suka bicara * Secara fisik memegang pendengar, emosional dan demonstratif * Antusias dan ekspresif * Ceria dan penuh rasa ingin tahu * Hidup di masa sekarang * Mudah berubah (banyak kegiatan / keinginan) * Berhati tulus dan kekanak-kanakan * Senang kumpul dan berkumpul (untuk bertemu dan bicara) * Umumnya hebat di permukaan * Mudah berteman dan menyukai orang lain * Senang dengan pujian dan ingin menjadi perhatian * Menyenangkan dan dicemburui orang lain * Mudah memaafkan (dan tidak menyimpan dendam) * Mengambil inisiatif/ menghindar dari hal-hal atau keadaan yang membosankan * Menyukai hal-hal yang spontan KELEMAHAN: * Suara dan tertawa yang keras (terlalu keras) * Membesar-besarkan suatu hal / kejadian * Susah untuk diam * Mudah ikut-ikutan atau dikendalikan oleh keadaan atau orang lain (suka nge-Gank) * Sering minta persetujuan, termasuk hal-hal yang sepele * RKP! (Rentang Konsentrasi Pendek) * Dalam bekerja lebih suka bicara dan melupakan kewajiban (awalnya saja antusias) * Mudah berubah-ubah * Susah datang tepat waktu jam kantor * Prioritas kegiatan kacau * Mendominasi percakapan, suka menyela dan susah mendengarkan dengan tuntas * Sering mengambil permasalahan orang lain, menjadi seolah-olah masalahnya * Egoistis * Sering berdalih dan mengulangi cerita-cerita yg sama * Konsentrasi ke "How to spend money" daripada "How to earn/save money". Sedangkan karakter MELANKOLIS yg pada umumnya mempunyai: KEKUATAN: * Analitis, mendalam, dan penuh pikiran * Serius dan bertujuan, serta berorientasi jadwal * Artistik, musikal dan kreatif (filsafat & puitis) * Sensitif * Mau mengorbankan diri dan idealis * Standar tinggi dan perfeksionis * Senang perincian/memerinci, tekun, serba tertib dan teratur (rapi) * Hemat * Melihat masalah dan mencari solusi pemecahan kreatif (sering terlalu kreatif) * Kalau sudah mulai, dituntaskan. * Berteman dengan hati-hati. * Puas di belakang layar, menghindari perhatian. * Mau mendengar keluhan, setia dan mengabdi * Sangat memperhatikan orang lain KELEMAHAN: * Cenderung melihat masalah dari sisi negatif (murung dan tertekan) * Mengingat yang negatif & pendendam * Mudah merasa bersalah dan memiliki citra diri rendah * Lebih menekankan pada cara daripada tercapainya tujuan * Tertekan pada situasi yg tidak sempurna dan berubah-ubah * Melewatkan banyak waktu untuk menganalisa dan merencanakan (if..if..if..) * Standar yang terlalu tinggi sehingga sulit disenangkan * Hidup berdasarkan definisi * Sulit bersosialisasi * Tukang kritik, tetapi sensitif terhadap kritik/ yg menentang dirinya * Sulit mengungkapkan perasaan (cenderung menahan kasih sayang) * Rasa curiga yg besar (skeptis terhadap pujian) * Memerlukan persetujuan

DEWASA DALAM KERJA

Pekerjaan......Pekerjaan......?? tau apa lo semua tentang pekerjaan...??? yang hanya lo tau cuma kerja, denger perintah, then ngelaksanain..??tapi bagi guwa bukan kayak gitu,,,yang gw pikirin adalah cuma sistem dan prosedural yang terkonsep yang perlu dimaknai aja yang ada di dalam lingkungan kerja tersebut, bisa berupa faktor psikis, nilai etis, sosial budaya kerja, ....... wakakak. ntar disambung lagi yo bro............ salam sosialis...........

HARI YANG SEMPURNA

Hari hari yang sempurna Ketika selalu melihat rembulan tersenyum Ketika selalu berada di naungan sinar senja yang hangat Ketika dua tangan terpaut erat tak ingin melepaskan nafasnya Hari-hari yang sempurna Ketika hangatnya mentari mampu mengeringkan luka yang menganga Ketika gelap merapat dipeluk hangat senyum manis bidadari Ketika kebersamaan membuat jiwa ini dapat bertahan Hari-hari yang sempurna Ketika bersamamu Hari-hari yang sempurna Ketika selalu kau bantu jiwa ini bertahan Bertahan sampai sejauh ini ... Bertahan sampai hari ini ... Hari-hari yang sempurna…….. Ketika rasanya semua masalah sirna Ketika semua penuh tawa dan keceriaan Hari-hari yang sempurna Ketika kau membuatku lupa dimana seharusnya ku berpijak Ketika kau bantu untuk melupakan siapa diriku Ketika kau bantu aku untuk menjadi manusia baru Walau masih merangkak, tertatih, mencari jati diri baru Walau masih banyak tabir yang harus disingkap satu demi satu Kau telah memperoleh apa yang kau inginkan Kau telah memperoleh apa yang kau mau Kegetiran dalam jiwa yang hancur bergantung padamu Gelap yang menggelayut resah, Tergulung ombak... lepas terhempas dibatu karang yang menyayat tubuh Hari-hari sempurna telah berlalu Kesendirian dan kehampaan yang tinggal Merengas di tanah kering kerontang Menggelepar... Berdebu... Menanti kematian yang tidak kunjung tiba...

UTOPIS SOCIALIZM

Sosialisme Utopis atau Sosialisme Utopia adalah sebuah istilah untuk mendefinisikan awal mula pemikiran sosialisme modern. Para sosialis utopis tidak pernah benar-benar menggunakan ini untuk menyebut diri mereka; istilah "Sosialisme Utopis" awalnya diperkenalkan oleh Karl Marx dan kemudian digunakan oleh pemikir-pemikir sosialis setelahnya, untuk menggambarkan awal kaum sosialis intelektual yang menciptakan hipotetis masa datang dari penganut paham egalitarian dan masyarakat komunal tanpa semata-mata memperhatikan diri mereka sendiri dengan suatu cara dimana komunitas masyarakat seperti itu bisa diciptakan atau diperjuangkan. Karena Sosialisme utopis ini lebih merupakan sebuah kategori yang luas dibanding sebuah gerakan politik yang spesifik, maka sebenarnya sulit untuk mendefinisikan secara tepat istilah ini. Merujuk kepada beberapa definisi, desinisi sosialisme utopis ini sebaiknya melihat para penulis yang menerbitkan tulisan-tulisan mereka pada masa antara Revolusi Perancis dan pertengahan 1930-an. Definisi lain mengatakan awal mula sosialisme utopis jauh lebih ke masa lalu, dengan mengambil contoh bahwa figur Yesus adalah salah satu diantara penganut sosialisme utopis. Istilah "sosialisme ilmiah" kadang digunakan oleh para penganut paham Marxisme untuk menguraikan versi sosialisme mereka, terutama untuk tujuan membedakannya dari Sosialisme Utopis dimana telah terdeskripsi dan idealistis (dalam beberapa hal mewakili suatu yang ideal) dan bukan ilmiah, yaitu, yang dibangun melalui pemikiran dan berdasarkan pada ilmu-ilmu sosial.