25 January 2008

Seks dan Pemberontakan Libido ( Red_Rezaantonius)

SEKS SEBAGAI PEMBERONTAKAN LIBIDO ..????

( Reza Antonius )

http://rezaantonius.multiply.com/

Terimakasih banyak dan salam hormat saya haturkan kepada nama yang saya cantumkan pada title tersebut diatas, karenanya, bukan maksud saya mem-plagiatisisasi notes pada blog beliau, namun dengan segala kerendahan hati saya, jujur saya mencintai alam filsafat, dan berencana (bukan berencana lagi, malah sudah terlanjur dicantumkan notes artikel beliua tersebut kedalam blog saya ini ) dengan harapan beliau juga dapat dengan bangga melihat hasil karyanya ini dipublikasikan juga oleh yang lain…Wass…Trims Bung Reza

Pemuasan seks itu memiliki variasi cara yang hampir tak terbatas. Marcuse menyebut perilaku seks tersebut sebagai Polymorphus Perverse, yakni penyimpangan yang beraneka ragam

Marcuse menciptakan konsep tersebut, setelah dia melihat akibat dari gejolak revolusi seksual yang banyak terjadi sekitar tahun 60-an. Dan untuk sungguh memahami apa yang dimaksud dengan penyimpangan yang beranekaragam ini, kita perlu sedikit memahami apa yang dimaksud revolusi seks.

Seks bagaimanapun privatnya, tidak bisa dilepaskan dari realitas publik, dari masyarakat. Revolusi seks menandakan ada yang berubah dalam batin masyarakat. Dengan kata lain, perubahan yang terjadi dalam perilaku seksual, menandakan ada suatu perubahan juga yang sedang terjadi dalam masyarakat.

Mari kita sejenak menengok ke masa lalu. Di abad pertengahan, seks adalah sesuatu yang luhur, yang suci. Kita bisa mengerti jika kita memahami paham kosmologi di jaman itu. Yaitu, alam dipandang sebagai satu kesatuan yang utuh, menyeluruh, dan tentu saja, suci. Demikian pula dengan bagian-bagiannya yang juga menyatu secara koheren dan memeluk kesuciannya.

Berbagai unsur parsial dalam kesatuan ini tidak boleh bertentangan satu dengan yang lain. Semuanya harus bergerak dan berada dalam keharmonisan. Ekses dari hal ini adalah, agama tidak bisa dipisahkan dari politik. Agama ikut-ikutan mempengaruhi politik, dan politik pun pada akhirnya dianggap “suci” seperti agama.

Dalam kosmos yang menyeluruh dan suci ini, seks adalah salah satu dari bagiannya. Sehingga bukan individu yang memegang kontrol atas seks, melainkan kosmos sebagai keseluruhanlah yang menentukan seks itu. Seks pada akhirnya disetir oleh kekuasaan di luarnya. Fungsi seks pada waktu masih sangat sempit, yakni sekedar untuk reproduksi saja.

Situasi harmonis itu berakhir dengan lahirnya kaum borjuis. Masyarakat borjuis mengarahkan matanya pada efisiensi, penumpukan modal, dan perluasan investasi. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan perhitungan rasional yang cermat, kaku, dan dingin. Rasionalitas seperti inilah yang merupakan ciri khas dari masyarakat borjuis. Seiring dengan ciri ini, seks pun harus tunduk di bawah rasio. Seks diinstrumentalisasikan oleh rasio, dibuat sedemikian rupa menjadi efektif dan berguna bagi penumpukan modal. Seks tidak hanya menjadi alat perkembangbiakan semata, tapi telah menjadi alat yang berguna untuk membuat masyarakat sejahtera.

Upaya memenjarakan seks dalam kalkulasi rasio yang dingin tentu saja tidak berhasil. Hal ini dikarenakan seks adalah bagian penting dari emosi dan afeksi perasaan manusia. Seks tak bisa diperbudak seluruhnya dalam rasio, kecuali bila itu semua berada di bawah komando kekuasaan dan pemaksaan. Nah, yang terakhir inilah yang menjadi pilihan dari masyarakat borjuis. Pada abad ke 18 dan 19, seks di tekan oleh suatu sistem kekuasaan yang sangat canggih. Dari sinilah berkembang moralitas borjuis yang bersikap represif pada seks. Tipikal moralitas yang represif pada seks tersebut, mengontrol hidup individu maupun sosial masyarakat, sampai akhirnya memuncak dan perlahan-lahan menyusut pada revolusi industri.

Situasi berubah drastis pada awal abad ke 20. Seksualitas yang selama ini direpresi oleh moralitas borjuis, bangkit dan kemudian terang-terangan menyatakan dirinya. Tokoh yang cukup berpengaruh dalam menganalisa masalah ini adalah Herbert Marcuse dan Sigmund Freud. Freud memprotes represi seksual yang tengah terjadi waktu itu. Sambil, ia sendiri sebenarnya khawatir akan besarnya dorongan seksual pada diri manusia. Freud pun berpendapat bahwa peradaban bisa tetap berjalan dan berkembang, bila masyarakat mampu mengontrol dorongan naluriahnya, termasuk seks, dengan penalaran dan tuntutan yang rasional.

Walaupun analisa Freud cukup tajam pada jamannya, dia tetaplah pemikir yang masih mengacu pada pola lama. Yakni, realitas yang rasional harus bisa menundukkan spontanitas naluriah manusia. Artinya, Logos harus tetap mengatasi Eros. Yang membuat Freud berbeda adalah, bagi dia, naluri seks manusia tidak perlu ditekan dan dihilangkan, tapi dialihkan dan diarahkan. Rumus Freud adalah, bagaimana manusia mengatur libidonya dan bukan menekannya. Singkatnya, manajemen libidolah yang penting, dan bukan represi libido.

Herbert Marcuse juga memiliki pendapat yang searah dengan Freud. Bagi dia, peradaban manusia modern bisa dibangun karena represi naluriah manusia oleh rasionya. Namun lebih dari Freud, Marcuse juga melihat, bahwa demi pertumbuhan ekonomi, represi tersebut sudah sampai pada tahap yang berlebihan. Hal ini bisa dipahami jika kita mengerti bahwa masyarakat industri maju, sudah menggantikan nilai-nilai pada realitas dengan paham untung rugi. Kalkulasi peraihan keuntungan lebih tinggi dari perasaan dan ketulusan manusia. Penekanan yang berat sebelah itu telah membuahkan krisis-krisis tertentu, yang menuntut untuk diperhatikan.

Spontanitas dan naluri manusia dilindas, agar manusia bisa meraup keuntungan lebih dan lebih. Hal ini berakibat, manusia modern memiliki lebih daripada yang dibutuhkannya. Bersamaan dengan itu, spontanitas manusia yang semestinya tunduk pada rasio manusia, juga pada akhirnya menjadi tunduk dan ditindas secara berlebihan, lebih dari yang diperlukan untuk mempertahankan peradaban, dan memenuhi kebutuhan. Bagi Marcuse, penindasan yang berlebihan pada spontanitas manusia itu tidak lagi rasional, tapi sudah menjadi irasional. Situasi ini memanas dan begitu menekan, sampai akhirnya memicu revolusi seksual pada awal tahun 60-an. Revolusi itu bertemakan pemberontakan eros atas logos secara terbuka.

Pengibar bendera revolusi seksual yakin, bahwa represi terhadap naluri seksual manusia adalah sebab utama dari agresi yang terjadi di masyarakat, dan pemerkosaan pada kaum wanita. Represi itu pulalah akar penyebab dari fasisme dan perang, dua hal yang sangat dibenci oleh generasi 60-an. Mereka berpendapat bahwa aktivitas seksual yang dibebaskan dari moralitas represif, akan membebaskan masyarakat dari kejahatan dan penindasannya. Maka masyarakat Barat pun mempraktekkan seks sebebas-bebasnya. Tanpa kontrol.

Saya kira sedikit menjadi jelas apa yang dimaksud Marcuse dengan seks sebagai Polymorphus perverse. Ragamnya praktek seks tersebut disebut menyimpang, pertama-tama karena dianggap berlawanan dengan praktek seks yang wajar dan mapan di masyarakat. Di sisi lain, praktek seks yang dianggap sebagai liar tersebut, sebenarnya merupakan realisasi dari kodrat manusia itu sendiri. Menurut kodrat itu, manusia selalu berjuang untuk menjadi otonom, lepas dari segala sesuatu yang didiktekan kepadanya oleh masyarakat. Kedua pemahaman itu seimbang, tidak ada yang lebih dan tidak ada yang lebih salah. Kedua pemahaman itu merupakan realitas yang terus akan menjadi ketegangan dialektis dalam hidup manusia. Kalau Hegel bilang, salah satu bagian dari dialektika roh menuju kesempurnannya.

Kita sudah mencoba mengerti, disatu pihak praktek seks liar seperti yang diungkapkan dalam Jakarta Undercover tersebut bertentangan dengan norma-norma masyarakat, dan mungkin dianggap terkutuk. Namun di lain pihak, kita bisa melihat bahwa secara diam-diam sebagian masyarakat telah hidup sesuai dengan cita-cita kebebasan yang dijanjikan oleh revolusi seksual. Kita bisa melihat kebebasan seksual telah begitu mewabah di masyarakat kita. Mulai dari internet, pornografi, VCD. Dan juga bukan rahasia lagi bahwa di kalangan anak muda kita, seks telah menjadi sedemikian bebas dan terbuka. Agak tidak adil kalau kita menilai praktek seks bebas itu melulu sebagai “menyimpang”. Semua itu harus kita lihat sebagai fakta, bahwa masyarakat pelan tapi pasti sedang mengarah pada bentuk masyarakat terbuka. Keterbukaan dalam masyarakat itupun pada akhirnya menghasilkan konsekuensi-konsekuensi tertentu yang perlu juga mendapat perhatian.

Seks di ruang publik

Dalam masyarakat yang telah terbuka, seks juga telah bersifat terbuka. Dan dalam keterbukaannya, seks bukan lagi soal privat, tapi telah berubah juga menjadi realitas publik. Seks, dalam praktek-prakteknya yang beragam dan liar, tidak lagi dilakukan dalam keintiman privat, tapi dilakukan dalam pesta dan kebersamaan yang bersifat publik. Hal ini bisa kita lihat pada gejala media massa kita, yang cenderung menampilkan berita-berita kehidupan selebriti, yang baik langsung atau tidak langsung, menampilkan aroma seks yang cukup kental terasa bagi kita.

Hal-hal seperti kiranya bisa ditangkap sebagai tanda, bahwa ide-ide revolusi seksual entah kita menyadarinya atau tidak, telah memasuki relung-relung kehidupan sosial masyarakat kita. Seperti dikutip oleh Sindhunata, Peter Duerr seorang etnolog dari Bremen itu pernah berkata “..tak pernah ada masyarakat, dimana tendensi untuk buka-bukaan dan blak-blakan tentang hal atau wilayah privat dan intim menjadi demikian kuat dan terang-terangan, seperti yang dilakukan masyarakat sekarang..”

Seperti sudah dikatakan diatas, seks bukan lagi privat, tapi sudah menjadi urusan publik. Seks bukan lagi penggambaran utuh dari intimitas antara dua sosok manusia dalam ruang privat, yang tabu bagi pengintip. Pengintip dalam dunia seksual tidak lagi dianggap sebagai dosa bagi hak asasi manusia. Lagi pula apa gunanya mengintip, toh mereka yang dulu menutup pintunya rapat-rapat, kini membukanya dengan lapang dada dan tangan terbuka? Bisa dikatakan, seks jaman sekarang telah menjadi musuh bagi intimitas itu sendiri. Yang intim kehilangan rumahnya, karena seks telah menjadi publik.

Seks kini bukan lagi barang tabu. Orang mulai berani berbicara terang-terangan mengenai seks. Media massa pun telah memiliki akses untuk menampilkan berita tentang seks tanpa banyak hambatan. Berbagai acara baik di TV maupun di panggung-panggung tertentu pun sudah berani bebas ditampilkan secara vulgar. Dalam beberapa pesta yang tertutup, tamu dalam pesta tersebut tidak hanya menjadi penonton dari tindakan seksual tersebut, tapi juga turut berpartisipasi aktif ambil bagian dalam kenikmatan yang ditawarkan. Realitas yang dulu tertutup, kini pelan tapi pasti membuka dirinya, siap untuk dinikmati oleh siapa saja, tidak peduli umur, status sosial, siapapun.

Memburu kenikmatan dengan menundanya

Setelah seks memasuki ruang publik, seks pun juga menjadi komoditi yang potensial untuk diperdagangkan. Hal tersebut tampak dari praktek prostitusi yang begitu mewabah dikalangan penikmat dunia malam masyarakat kita. Orang mesti membayar berjuta-juta untuk meraih kenikmatan seks sensasional dengan salah satu pekerja seks komersil yang dipilihnya. Dengan demikian, seks dalam arti tertentu telah dikomoditi menjadi barang.

Kesimpulan yang dapat ditarik dari fenomena itu adalah; seks telah difragmentasikan. Kaum kapitalis pandai memanfaatkan fenomena ini. Justru karena seks telah difragmentasikan, banyak orang rindu untuk kembali merasakan seks yang seutuhnya, kalau perlu seks liar yang gila-gilaan. Nafsu seks manusia itu pun akhirnya dimanfaatkan bisnis modern dengan seoptimal mungkin.

Dalam setiap penawaran yang dibuat bisnis modern tentang seks, kita ditawarkan rangsangan yang menggairahkan, diberikan lamunan dan mimpi tentang seks tanpa aturan dan norma, kita dijanjikan kegilaan seks yang menembus batas. Contoh yang paling kelihatan adalah praktik seks dengan terlebih dahulu menggosokkan buah dada wanita ke seluruh tubuh pria, yang sudah diolesi oleh minyak tertentu, yang dianggap semakin menambah kenikmatan fore play. Dalam praktek seks seperti itu, orgasme di tahan dengan janji orgasme kemudian yang lebih dan lebih lagi. Praktek seks seperti itu memburu kenikmatan dengan menundanya.

Aktivitas seksual pun tidak langsung ke menu utamanya yakni penetrasi penis ke vagina, tapi didahului dengan tindakan menghadirkan sensasi-sensasi erotis fore play, yang dianggap dapat memberi kenikmatan yang lebih besar lagi. Dibalik praktek semacam itu, tersembunyi sebuah mitos bahwa kenikmatan itu berhubungan dengan penundaan.

Istilahnya, makin pelan makin nikmat. Seks akan terasa lebih nikmat dan memuaskan jika dilakukan dengan tanpa ketergesaan. Makin lama orgasme itu dapat ditunda, makin besar pula janji kenikmatan yang nantinya akan diterima. Tanpa janji seperti itu, permainan seks akan terasa tawar. Tapi jika orgasme terlalu mudah diraih, permainan seks pun juga akan kehilangan sensasi-sensasi letupan detailnya, yang justru menjadikan seks itu semakin dan semakin nikmat. Orang tiba-tiba sudah sampai pada akhir, tanpa merasakan proses menuju kenikmatan itu sendiri. Sesuatu yang sangat disayangkan.

Mitos penundaan orgasme akan menghasilkan orgasme yang lebih besar lagi, adalah ide di balik segala praktek seks liar tersebut. Banyak ide ini ditemukan dari film-film porno. Film-film porno itu menawarkan janji orgasme yang tanpa batas, semacam utopi orgasme yang tiada habisnya.

Pemain film porno menunjukkan bahwa manusia bisa selalu dalam keadaan panas dan bergairah, dan juga ide bahwa orgasme itu bisa berulang kali. Orang seakan di bawa pada puncak kenikmatan, dan ketika puncak itu sedang datang, orang menundanya. Seakan-akan jika orgasme ditunda, puncak kenikmatan yang berikutnya akan terasa lebih nikmat lagi, sehingga makin bernafsulah aktor-aktor seks tersebut. Apalagi kita yang menontonnya.

Tapi, sungguhkan orgasme yang ditunda tersebut memberi kenikmatan lebih dari orgasme yang biasanya? Belum tentu. Praktek seks seliar apapun pada akhirnya akan berakhir pada dictum: Post coitum omne animal triste. Sesudah berhubungan seks, semua mahluk menjadi sedih dan tidak puas. Kesan yang diperoleh setelah berhubungan seks pun akan terasa tawar. “ Kok hanya begitu-begitu saja sih?” mengutip dari seseorang yang telah mengalaminya.

Paradoks seperti merupakan titik awal dari dialektika libido yang dijanjikan oleh kapitalisme. Paradoks itu sebisa mungkin diupayakan untuk disembunyikan. Praktek seks semacam itu memang sesaat kelihatan wah, tapi justru praktek seperti itu telah mengingkari kodrat kita sebagai manusia, dalam berhubungan seks. Setiap kenikmatan yang ingin diraih manusia, tidak menginginkan perpanjangan atau penundaan, tapi keabadian. Kapitalisme menawarkan mitos bahwa kenikmatan itu bisa tak ada batasnya, dengan cara menundanya dan memperpanjangnya. Tapi bagaimanapun menariknya, yang ditawarkan kapitalisme itu hanyalah mitos. Itu adalah sebuah tipuan, sehingga bagaimanapun dibungkus oleh dandanan yang merangsang, tetap saja tak akan membawa manusia pada kebahagiaan yang sesungguhnya.

Yang timbul setelah kita termakan oleh mitos ala kapitalisme tentang seks tersebut, adalah rasa sia-sia. Dalam situasi perasaan sia-sia itu, manusia mengalami perasaan yang mirip dengan “kekosongan setelah pesta”.

Ada dua keterpisahan yang dirasakan disini, pertama keterpisahan dengan partner seksnya, dan keterpisahan yang terjadi di dalam dirinya sendiri. Yakni keterpisahan jiwa dengan badannya. Orang merasa jiwa dan badannya terpisahkan oleh kekosongan. Suatu kesadaran bahwa kenikmatan yang baru saja ia raih adalah kenikmatan tanpa isi, tanpa roh. Roh seksualitas telah meninggalkannya dalam kekosongan. Hal itu dikarenakan tindakan seksual yang hanya menjadikan badan sebagai titik tolak pemuasannya saja. Tipe seks yang hanya pemuasan badan pada akhirnya akan menghasilkan kekosongan belaka. Tapi manusia memang paradoks, walaupun tahu bahwa pada akhirnya akan mengalami kekosongan, mereka tetap mencari kenikmatan seks liar tersebut. Disinilah kehebatan kapitalisme. Kapitalisme mampu menghipnotis manusia demi kepentingannya, sama ketika kapitalisme menangkap manusia dalam mimpi irasionalisme demi penumpukan uang dan modal.

Seks telah menjadi salah satu jiwa dari kapitalisme. Dengan begitu, seks sudah tidak dapat lagi dipisahkan dari kapitalisme. Seks selalu menjadi bayang-bayang bagi kapitalisme. Dimana kapitalisme hadir, disitu seks hadir. Dimana kapitalisme hadir sebagai penindasan dan pemerasan, disitu seks juga hadir sebagai elemennya yang tak terpisahkan. Dimana kapitalisme berkuasa, disitu seks juga menjadi alat penguasa. Ini adalah ekses-ekses dari pemenjaraan libido yang kini telah berani angkat muka, dia memberontak! Pemberontakan libido itu menumpang sekaligus tak terpisahkan dengan kapitalisme, yang kini semakin mewabah, dan bahkan telah menjadi gaya hidup.